Memang adakalanya kota itu dibangun dengan gerutu serta narasi halus untuk membobol pundi-pundi rupiah. Mereka berkata: “Kita harus main cantik, atur siasat, singkirkan keparat”

Aku mencoba membaca gelagat mereka dari koran-koran yang memuat berita manusia gerobak, penjual air bersih serta penghuni rusun yang menghemat lampu listrik. 

Di halaman koran tentang perdagangan, tumpukan menggunung roti berjamur dijual untuk pakan ikan. Hanya satu halaman saja yang memuat berita mesum dengan huruf warna merah. Aku juga tak tahu apa maksudnya menulis judul berita besar dengan narasi penuh kekejaman seperti itu.

Sementara beberapa penulis disewa untuk memperbaiki akhlak mereka. Maka, menulislah dengan alibi, katanya, pokoknya, dan suara-suara yang bahkan tak pernah menembus gendang telinga. Semacam bisikan hasrat: “Wahai penguasa pusat mana jatah kami?”

Para penyair yang tak jelas riwayatnya menyelipkan hiasan-hiasan di lorong¬†underpass:¬†“Puisi¬†menyelamatkan kita dari murka”. Lalu aparat menghapus dengan cat tembok warna beton dan nampak jelas kabel semrawut. Harapannya dana dari pusat segera cair.

Sebuah kumpulan pembaca saling melempar tanya: “Apakah mampu sebuah kata-kata puisi mengubah wajah Kota?”

Kata penguasa kota itu: “Siapa dia? bisa dikondisikan tidak? malam ini aku ingin tidur di rumah dinas.”

SINGOSARI, 30 Mei 2020

Sumber: https://www.kompasiana.com/omsan/5ed27002d541df294b062d32/kota-dengan-rumah-dinasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *