Bandara baru dibuka, wajahnya penuh belukar, suara penumpang seperti satwa yang gembira. “Kami ingin bepergian, ke suatu surga, lalu pulang membawa tawa. Hidup hanya sekali, kita bisa pergi mengangkasa.”

Stasiun kereta mulai membuka jendela, uang kertas ditukar tiket kertas, kaki yang pegal dibantu roda untuk meniti besi yang membujur sejauh perjalanan. Kenangan-kenangan kemarin mengerucut di belakang pintu kereta paling buritan.

Terminal bus demikian silih berganti menggelontor orang pembawa kardus bertali rafia hingga muda-mudi berangsel di punggungnya. Sejauh ini bus full AC dan suka menyalip sembarangan kian diminati. Di daratan ini hanya bus yang dikandangkan lalu esok harinya berlari seribu kuda.

Di pelabuhan, tempat hati berlabuh, jangkar selalu melukai dasar. Mata yang membiru laut berubah bening sejak mendarat. Gelombang derita dilipat bersama selimut kabin. Badai kecemasan dititipkan di geladak, esok bisa di larung bersama putaran baling-baling. 

Di pekuburan, seorang penggali memenuhi permintaan dari beberapa tiket. Bahwa hidup sejatinya memesan tiket hendak bepergian. Orang-orang mengemasi jarum jam, pulang dan datang dengan angka tak lebih dari dua belas, baik itu siang maupun malam.

Kamu pegang tiket angka berapa?

SINGOSARI, 26 Mei 2020

Sumber: https://www.kompasiana.com/omsan/5ecd2e35d541df02412754a2/tiket-bepergian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *